 |
Pelbagai macam versi mengapa Habib Ahmad sampai mendapat gelar AlKaff.
Menurut satu keterangan, ketika Ahmad melakukan perjalanan ibadah haji
ke Tanah Suci, ia mendapat rintangan di jalan. Ketika melintas di
sebuah daerah berbukit, Habib Ahmad dan rombongan jemaah haji mendapati jalan
di depan mereka penuh dengan runtuhan (longsoran) batu-batu besar dari
bukit. Rombongan tak dapat lewat. Tak ada anggota rombongan yang mampu
menyingkirkan batu-batu besar itu, kecuali Habib Ahmad bin Muhammad.
Versi kedua, gara-garanya suatu ketika Habib Ahmad berhasil menaklukkan
seseorang jagoan yang mempunyai kekuatan luar biasa. Kekuatan yang luar
biasa itu dalam bahasa Hadramaut disebut 'Kaf'.
Ada lagi versi yang lain tentang lahirnya gelar AlKaff. Dalam
suatu berperkara di pengadilan, hakim meminta Habib Ahmad bin Muhammad
menuliskan suatu kode. Beliau kemudian menuliskan huruf Kaf, maka sejak
itu masyarakat memanggilnya dengan gelar AlKaff.
Versi berikutnya, Habibi Ahmad bin Muhammad senang berdo'a menggunakan huruf yang banyak mengandung huruf Kaf.
Do'a tersebut menurut satu keterangan diajarkan langsung oleh Nabi
Muhammad SAW kepada beliau lewat mimpi. Do'a itu berbunyi: "Allah yang
mencukupi, telah kudapati kecukupan. Setiap perkara ada yang mencukupi
dan telah mencukupi pujian semua itu dari Allah SWT." Dari sini lantas
lahir sebutan AlKaff.
Ahmad bin Muhammad AlKaff dilahirkan di Kota Tarim, Hadramaut,
dikaruniai 2 orang anak lelaki bernama Abubakar dan Muhammad.
Waliyullah Ahmad bin Muhammad AlKaff wafat di Tarim tahun 911 H (1491
M).
Belakangan, banyak anak keturunan Ahmad bin Muhammad AlKaff yang
mampir ke Nusantara. Salah satu daerah yang paling banyak disinggahi
adalah Palembang. Kota yang terkenal dengan makanan Mpek-mpek ini pada
zamannya merupakan kota transit yang sering disinggahi para saudagar
dari Hadramaut dan negeri-negeri jauh lainnya.
Salah satu keturunan AlKaff yang bermukim di Palembang adalah
seseorang yang juga bernama Ahmad (sama seperti leluhurnya). Ahmad
tetap tinggal di Palembang hingga akhir hayatnya. Anaknya yang bernama
Salim dari Palembang kemudian merantau ke Tanah Banjar. Entah bagaimana
ceritanya Salim kemudian menetap di Barabai. Kemungkinan besar Salim
memiliki famili di Kota Apam ini. Namun, Salim kemudian 'pulang
kampung' ke tanah kelahirannya di Palembang, dan wafat di sana.
Anak Salim yang bernama Muhammad lahir di kota sejuk yang dulu
terkenal dengan sebutan Bandung van Java ini. Muhammad, dikenal dengan
panggilan Habib Ci, inilah yang kemudian pindah ke Kampung Sungai Mesa,
Banjarmasin.
Kampung Sungai Mesa merupakan kampung tua. Dulu di wilayah ini
berdiri rumah keluarga kesultanan Banjar. Di sini pula berdiam sejumlah
keluarga Sayyid (Habib) yang ada di Banjar. Antara lain dari marga
Assegaf, Alaydrus, dan AlKaff.
Selain Habib Ci (Muhammad), Salim masih memiliki seorang putra
bernama Abdullah. Anak-anak keturunan Abdullah saat ini juga tinggal di
Banjarmasin.
Muhammad memiliki putra bernama Alwi yang juga kelahiran Barabai.
Alwi (telah almarhum) memiliki istri yang juga bermarga AlKaff.
Syarifah Fetum, berusia sekitar 70 tahun, kini tinggal bersama putranya
yang bernama Ibrahim.
Dari jalur ayah dan ibunya, Ibrahim memiliki darah AlKaff murni.
Kakek Ibrahim dari jalur ibu adalah Husin bin Hamid bin Alwi AlKaff.
Hamid berasal dari Palembang yakni di wilayah 10 Ilir. Hamid datang
merantau dari Palembang ke Banjarmasin.
Sehari-hari Ibrahim bersama ibunya menunggui kios kecilnya di
depan rumah mereka di Sungai Mesa. Yang menarik dari karakter Ibrahim
adalah ia mengatakan sesuatu apa adanya. "Ana yang haq saja," katanya.
Mungkin karena mewarisi ke-AlKaff-an leluhurnya, Ibrahim memiliki
pengetahuan yang cukup tentang persoalan tertentu seperti sejarah dan
hukum. Juga ketika disinggung tentang leluhurnya yang bernama Sayyidina
Ali bin Abi Thalib.
Ketika berbicara tentang Lailatul Qadar, Ibrahim menyitir ucapan
Imam Ali bahwa sebaik-baiknya kedudukan adalah orang yang ikhlas. Orang
yang ikhlas akan menjadi kekasih-Nya.
original from algembira.com
|
 |